Jumat, 08 April 2016

Ketahui beberapa ciri pembeda Jalak Suren jantan dan betina

Burung Jalak Suren jantan dan betina meskipun sama-sama bisa berkicau, akan tetapi burung Jantan akan memiliki suara kicauan yang lebih variatif, lantang dan juga gacor dibandingkan dengan Jalak suren betinanya.Karena faktor tersebut, meskipun burung jantan dan betina sama-sama mampu berkicau namun membeli burung Jantan untuk dijadikan burung kicauan di rumah tetap menjadi pilihan akhir penggemar

Rabu, 06 April 2016

Ketahui Penyebab Murai Batu Tidak Bisa Ngeplong

Salam untuk semua para pencinta burung kicau terutama MB Mania,kali ini miefbird akan posting tentang mengapa burung murai tidak bisa ngeplong, meski burung sudah cukup umur, dan beberapa cara untuk mengatasinya. Adapun postingan tentang murai batu yang telah kami buat sebelumnya yaitu: Tips Cara Melatih Mental Tempur Murai Batu Muda,Rutinitas Harian Murai Batu Buat Persiapan Lomba,Tips Cara

Selasa, 05 April 2016

Mencetak Kacer Muda Yang Berkualitas Untuk Lomba Agar Juara

Mencetak Kacer Juara- Setingan kacer jawara, melatih kacer petarung, video kacer juara nasional, kacer juara presiden cup, setingan kacer menjelang lomba, Kacer Ngobra, perawatan kacer juara om kicau, ciri kacer juara, cara merawat kacer biar jinak dan gacor, kacer juara, download mp3 kacer juara, video kacer juara nasional, perawatan kacer juara nasional, kacer juara presiden cup, kacer juara

Sabtu, 07 Februari 2015

14 Jenis Punglor (Anis) Yang Hidup di Alam Indonesia

Umumnya kita ketahui jenis Punglor (Anis) atau Trush, adalah dari genus Zoothera dan Turdus. Sebenarnya ada beberapa genus lagi yang termasuk kategori punglor, seperti Myophonus, Psophocichla, Ixoreus, dan lain-lain yang semuanya berada dalam Family Turdidae.

Di Indonesia sendiri jenis punglor dari genus Zoothera dan Turdus termasuk banyak tersebar di wilayah Indonesia. Yang paling populer adalah punglor merah (Zoothera citrina), punglor kembang (Zoothera interpres), punglor macan (Zoothera dohertyi) dan kemudian ada lagi punglor siberia (Zoothera sibirica) dan punglor cendana (Zoothera peronii).
Jenis punglor tersebar dari wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua, dan di banyak pulau-pulau kecil perairan Indonesia. Sebagian besar memiliki suara kicauan yang "enak" didengar, sehingga burung jenis punglor ini selalu menjadi favorit untuk dijadikan burung peliharaan walaupun harganya terbilang tinggi.

Mari kita lihat apa saja jenis punglor yang hidup di wilayah Indonesia ini.
  • Punglor Merah (Zoothera citrina) - Orange-headed Thrush
    Punglor Merah sangat populer di kalangan penggemar burung di Indonesia. Tentang kepiawaiannya membawakan suara kicauannya yang terbilang luarbiasa, menjadikan burung ini selalu menjadi favorit di hati penggemar burung.
    Punglor Merah
    Zoothera citrina
    Species Punglor Merah (Zoothera citrina) tersebar di wilayah Asia, terdiri dari 11 subspecies, salah satu subspeciesnya hidup di pulau Jawa dan Bali, yaitu Zoothera citrina rubecula. Di pulau Jawa tersebar dari Jawa Barat, Tengah dan Timur, dan juga di pulau Bali. Sedangkan 10 subspecies lainnya, tersebar dari Himalaya, India, Srilanka, Myanmar, Thailand sampai ke Malaysia. Sebenarnya salah satu subspecies Zoothera citrina pernah beberapakali ditemukan di pulau Kalimantan dekat perbatasan Indonesia - Malaysia, tapi diduga itu adalah subspecies Zoothera citrina aurata yang menyeberang perbatasan dari gunung Kinabalu Malaysia.
  • Punglor Kembang (Zoothera interpres, Temminck, 1828) - Chesnut-capped Thrush
    Kepopuleran Punglor Kembang setara dengan Punglor Merah. Kepiawaiannya melantunkan kicauannya sangat luarbiasa, sehingga suara dasarnyapun sangat nyaman untuk dinikmati.
    Punglor Kembang
    Zoothera interpres
    source: hkbws.org.hk
    Species Punglor Kembang (Zoothera interpres) di Indonesia ditemukan di pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Lombok, Sumbawa dan Flores. Penyebaran luasnya mencakup Thailand, Malaysia, Filipina dan Indonesia.
  • Punglor Macan atau Punglor Ampenan (Zoothera dohertyi, Hartert, 1896)
    Burung Punglor Macan disebut juga sebagai Punglor Ampenan, karena pertama kali burung ini dibawa dari Ampenan. Tapi para penggemar burung lebih suka menyebut burung ini dengan sebutan Punglor Macan. Kicauannya yang lembut mengalun, cocok untuk dijadikan burung rumahan.
    Punglor Macan\
    Zoothera dohertyi
    Punglor Macan ditemukan di pulau Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor.
  • Punglor Cendana (Zoothera peroniiVieillot, 1818) - Orange-banded Thrush
    Untuk jenis ini, tergolong agak baru dikenal kalangan penggemar burung Indonesia, kalau tidak salah burung ini baru mulai populer sekitar tahun 2000-an, awal diperkenalkan di pedagang burung pulau Jawa. Suara kicauannya tergolong bagus, mampu menyerap berbacai macam suara masteran, namun gayanya yang unik "gaya nungging" agak mengurangi penampilannya di kontes burung. Walau begitu Punglor Cendana tetap menjadi salah satu favorit untuk dijadikan koleksi peliharaan.
    Punglor Cendana
    Zoothera peronii
    source:
    Burung ini hanya ditemukan di Indonesia, terdiri dari 2 subspecies, yaitu:
    • Zoothera peronii peronii (Vieillot, 1818) - pulau Roti dan Timor Barat
    • Zoothera peronii audacis (Hartert, 1899) - Timor Leste (dulu Timor Timur), pulau Wetar dan Romang Timur sampai ke Babar.
  • Punglor Hutan (Zoothera andromedae) - Sunda Thrush
    Burung ini ada yang bilang agak mirip Punglor Macan, tapi sepertinya lebih mirip dengan Punglor Sisik, sehingga tidak jarang orang menyangka ini adalah Punglor Sisik. Di Jawa Barat burung ini dikenal dengan sebutan Anis Hutan. Suara kicauan juga terbilang merdu. Populasi saat ini semakin berkurang dan mulai langka.
    Punglor Hutan
    Zoothera andromedae
    Di Indonesia burung ini ditemukan di Jawa Barat sekitar gunung Pangrango, tapi di pulau Sumatra burung mirip dengan Punglor Hutan sering ditemukan.
    Penyebaran burung ini secara luas, selain di Jawa Barat, juga ditemukan di pulau Sumatra, Malaysia dan Filipina.
  • Punglor Siberia atau Punglor Hitam (Zoothera sibirica, Pallas, 1776) - Siberian Thrush
    Si Hitam ini lumayan misterius dan bertubuh bongsor alias besar. Tapi dengan tubuh besar seperti itu burung ini juga mampu mengeluarkan kicauan yang lumayan unik dan enak. Gaya berkicaunya yang unik "setengah teler" menoleh ke kiri dan ke kanan, sambil berkicau lembut, sangat menarik perhatian yang melihatnya.
    Punglor Siberia
    Zoothera sibirica
    Tempat asalnya Siberia Russia, Mongolia dan China, terutama daerah yang bersuhu dingin, pada musim kawin biasanya bermigrasi mencari daerah hangat seperti Asia Tenggara, sering ditemukan di pulau Sumatra dan Jawa. Walaupun bukan burung asli Indonesia, tapi sering terlihat hidup di alam Indonesia, terutama di daerah pegunungan pulau Sumatra dan Jawa.
  • Punglor Sisik (Zoothera dauma, Latham, 1790) - Common-scaly Thrush
    Burung ini termasuk burung "pendiam" kata kebanyakan penggemar burung, karena sulitnya membuat burung ini mau berkicau, seringnya cuma "ssstt ssstt" saja. Tapi ada juga yang berhasil mem"bunyi"kan burung ini. Bukan "gampang-gampang susah" tapi "susah-susah sulit", alias benar-benar perlu kesabaran dan perawatan khusus.
    Punglor Sisik
    Zoothera dauma
    Punglor Sisik awalnya ditemukan di wilayah Siberia Russia, Mongolia, China, Taiwan dan Filipina. Tapi akhir-akhir ini ditemukan juga di daerah pegunungan Bukit Barisan Sumatra Utara, awalnya burung ini diduga hanya bermigrasi sementara selama musim dingin di tempat asalnya, tapi karena seringnya burung ini ditemukan di pegunungan Bukit Barisan, diyakini burung ini juga berhabitat di tempat tersebut atau mungkin bermigrasi dari tempat asalnya dan menetap di tempat barunya, yaitu di pegunungan Bukit Barisan Sumatra Utara.
  • Punglor Enggano (Zoothera leucolaema, Salvadori, 1892) - Enggano Thrush
    Pulau Enggano ternyata memiliki satu jenis Punglor. Di kalangan penggemar burung Indonesia, nama Punglor Enggano mungkin kurang populer. Tapi Punglor Enggano termasuk salah satu burung penyanyi yang indah suaranya, yang hidup di pulau sebelah barat pulau Sumatra. Seperti keluarga Punglor lainnya, Punglor Enggano juga memiliki suara yang indah.
    Punglor Enggano
    Zoothera leucolaema
    Di Indonesia Punglor Enggano, hanya ditemukan di pulau Enggano, kadang bisa menyeberang ke pulau Sumatra atau kepulauan Mentawai.
    Penampilan Punglor Enggano sangat mirip dengan Punglor Kembang, tapi di sekitar dada berwarna putih, dan tidak ada bercak hitam seperti Punglor Kembang.
  • Punglor Buru (Zoothera dumasi, Rothschild, 1899) - Buru Thrush
    Salah satu keluarga Punglor juga ada di wilayah Tengah Indonesia. Penampilan sekilas juga mirip dengan Punglor Kembang, namun postur tubuh sedikit lebih panjang.
    Punglor Buru
    Zoothera dumasi
    source: 
    Punglor Buru ditemukan di pulau Buru dan sebelah barat pulau Seram, yang berada di wilayah Maluku. Punglor Buru terkait erat dengan Punglor Seram, karena terdapat banyak kemiripan, tapi oleh para peneliti Punglor Buru dan Punglor Seram dipastikan sebagai dua species yang berbeda.
  • Punglor Seram (Zoothera joiceyi, Rothschild dan Hartert, 1921) - Seram Thrush
    Di pulau Seram, masih wilayah Maluku juga terdapat satu subspecies Punglor. Bentuk fisik juga mirip dengan Punglor Kembang. Sayangnya sampai saat ini kita belum menemukan contoh gambar/ picture Punglor Seram ini.
    ...

    Hidup di daerah pegunungan pulau Seram. Punglor Seram masih terkait erat dengan Punglor Buru, karena terdapat banyak kemiripan, tapi oleh para peneliti Punglor Seram dan Punglor Buru dipastikan sebagai dua species yang berbeda.
  • Punglor Tanimbar (Zoothera schistacea, A. B. Meyer, 1884) - Slaty-backed Thrush, Tanimbar Thrush
    Di pulau Tanimbar juga terdapat satu jenis burung Punglor, yaitu Zoothera schistacea. Saat ini populasi burung ini semakin terancam kehidupannya, akibat perambahan hutan dan perburuan terhadap burung ini.
    Punglor Tanimbar
    Zoothera shictacea
    source: 
    Punglor Tanimbar, hanya ditemukan (hidup) di pulau Tanimbar.
  • Punglor Kayu atau Punglor Kening (Turdus obscurus) - Eyebrowed Thrush
    Nama burung ini lumayan unik, ada nama "kayu" di belakang kata Punglor. Tidak tahu mengapa diberinama seperti itu, mungkin karena warnanya kecoklatan seperti warna kayu. Nama lainnya adalah Punglor Kening. Ukuran tubuh lumayan besar. Suara kicauan walau tidak semerdu sepupunya dari genus Zoothera, tapi lumayan menarik untuk didengar dan ada variasinya juga. Pada bagian kepala di atas mata terdapat alis berwarna putih.
    Punglor Kayu
    Turdus obscurus
    Punglor Kayu, tempat asalnya adalah dari wilayah Siberia, Mongolia dan Amurland. Pada musim kawin biasanya mencari tempat hangat ke wilayah Asia Tenggara, dari Taiwan, Filipina sampai kepulauan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Sering ditemukan di pulau Sumatra, Kalimantan dan Jawa.
  • Punglor Gunung atau Anis Gading (Turdus poliocephalus) - Island Thrush
    Burung ini mungkin termasuk yang paling besar ukuran tubuhnya dari seluruh keluarga Thrush (Punglor). Suara kicauannya tidak terlalu menarik (begitu menurut penggemar burung). Di Indonesia burung ini sering ditemukan di berbagai tempat. Sedangkan penyebaran seluruh subspecies burung ini termasuk luas di sebagian wilayah Asia, Asia Tenggara sampai ke pulau-pulau di wilayah Pasifik.
    Punglor Gunung
    Turdus poliocephalus
    Penyebaran Punglor Gunung di wilayah Indonesia termasuk luas, hampir di seluruh wilayah Indonesia burung ini ditemukan.
    Dari 49 subspecies Punglor Gunung (Turdus poliocephalus), 13 subspecies Punglor Gunung tersebar di Indonesia dan dekat perbatasan Malaysia.
    1. loeseri Meyer de Schauensee, 1939 - Sumatra Utara
    2. indrapurae Robinson & Kloss, 1916 - Sumatra bagian Tengah
    3. fumidus Statius Muller, 1844 - gn Papandayan, gn Pangrango dan gn Gede, di Jawa Barat
    4. erythropleurus Sharpe, 1887 - Jawa Barat dan pesisir Selatan pulau Jawa
    5. javanicus Horsfield, 1821 - pegunungan di Jawa Tengah
    6. stresemanni M. Bartels, Jr, 1938 - gn Lawu, Jawa Timur
    7. whiteheadi (Seebohm, 1893) - pegunungan di Jawa Timur
    8. seebohmi (Sharpe, 1888) - Borneo Utara, wilayah Malaysia (Borneo (gn Kinabalu)
    9. hygroscopus Stresemann, 1931 - Sulawesi Selatan
    10. celebensis (Büttikofer, 1893) - Sulawesi bagian Barat Laut
    11. schlegelii P. L. Sclater, 1861 - Timor Barat
    12. sterlingi Mayr, 1944 - Timor Leste (dulu Timor Timur)
    13. deningeri Stresemann, 1912 - pulau Seram, Maluku
  • Punglor Sulawesi (Cataponera turdoides, )
    Punglor asal Sulawesi ini, termasuk unik, karena penampilannya rada berbeda dengan jenis punglor pada umumnya. Tubuh terlihat panjang, paruh tebal dan agak panjang.
    Punglor Sulawesi
    cataponera turdoides
    source: 
    Rob Hutchinson
    Punglor Sulawesi hanya ditemukan di pulau Sulawesi, dan terdiri dari 4 subspecies, yaitu:
    1. abditiva Riley, 1918 - Sulawesi Utara dan Tengah
    2. tenebrosa Stresemann, 1938 - Sulawesi Selatan
    3. turdoides Hartert, 1896 - Sulawesi sebelah Barat Laut
    4. heinrichi Stresemann, 1938 - Sula­wesi sebelah Timur Laut

Diolah dari berbagai sumber





Jumat, 23 Januari 2015

Cucak Kopi

Cucak Kopi
Cucak Kopi (Pomatorhinus montanus, Horsfield, 1821) "Chestnut-backed scimitar babbler", disebut juga sebagai Kopi-kopi atau Cica Kopi, kadang dengan tambahan Melayu di belakang Cica Kopi. Berasal dari keluarga Timaliidae dan genus Pomatorhinus. Termasuk burung asli Asia Tenggara, tersebar mulai dari Thailand, Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Ukuran tubuh termasuk sedang sekitar 29 cm, di atas mata terdapat garis putih menyerupai alis berwarna putih, paruh panjang melengkung ke bawah seperti burung penghisap madu, tapi sebenarnya burung ini adalah pemakan buah-buahan, juga pemakan serangga seperti kumbang, laba-laba, belalang, ulat, kupu-kupu, di habitat hutan dataran rendah, perbukitan sampai ketinggian 1.200 m dpl, terutama pada hutan yang banyak memiliki semak belukar dan hutan bambu. Pada bagian punggung, sayap dan ekor berwarna coklat. Pada dagu, dada dan perut bagian atas berwarna putih.
Sering terlihat sendirian pada saat berkeliaran mencari makan di atas permukaan tanah, kadang bisa terlihat berdekatan dengan burung lain seperti Poksay.

Burung Cucak Kopi (Pomatorhinus montanus) terdiri dari beberapa subspecies, yaitu:
  1. Pomatorhinus montanus occidentalis; Thailand, Malaysia, Sumatra dan Bangka
  2. Pomatorhinus montanus bornensis; Kalimantan
  3. Pomatorhinus montanus montanus; Jawa Barat dan Tengah
  4. Pomatorhinus montanus ottolanderi; Jawa Timur dan Bali

Seperti kebanyakan burung pemakan buah, burung Cucak Kopi berkembang biak tidak tergantung musim, mereka sering melakukan pembiakan dengan pasangannya. Sarang berbentuk bulat besar terbuat dari rumput kering, daun pakis, ranting, sedikit berlumut, pada cabang-ranting pohon atau kadang ditempatkan di dalam semak-semak. Telur 2 sampai 5 butir berwarna putih.

Suara kicauan mungkin sedikit terdengar monoton, tapi lumayan enak dan mengalun merdu. Ada yang menganggap suara Cucak Kopi ini agak mirip dengan karakter kicauan burung Poksay. Bagi para penggemar burung kicauan, burung Cucak Kopi mungkin kurang menarik untuk dipelihara sebagai burung kontes atau burung master, tapi burung ini mungkin memiliki daya tarik tersendiri sebagai pelengkap koleksi burung peliharaan di rumah kita.

Gallery

Cucak Kopi

by photo ©John Kok



Selasa, 16 Desember 2014

Lincang

Lincang (Pycnonotus atriceps), Temminck, 1822, kalau dilihat dari taksonominya, burung ini masih satu keluarga dengan kutilang, trucuk dan cucak rawa, juga dengan cucak jenggot. Burung ini mungkin kurang populer di kalangan penggemar burung di Indonesia. Burung ini punya suara yang khas berupa tembakan panjang, beberapa bahkan bisa mengeluarkan tembakan yang rapat dan panjang.

Di pasar-pasar burung di pulau jawa, agak jarang kita menemukan burung ini, biasanya musiman, kadang bisa datang dalam jumlah puluhan ekor, tapi lebih sering tidak tersedia di pasaran. Sehingga kalaupun ada burung ini sering dipandang sebelahmata bagi peminat burung kicauan, mungkin disangka kutilang emas.

Family Pycnonotidae
Genus Pycnonotus
Species Pycnonotus atriceps (Temminck, 1822)
  • Pycnonotus atriceps atriceps (Temminck, 1822); Bangladesh, India Timurlaut sampai China sebelah baratdaya, Asia Timurlaut, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Bali, Kalimantan dan Palawan
  • Pycnonotus atriceps hyperemnus (Oberholser, 1912); Sumatra, Simalur, Nias, Mentawai, Bangka dan pulau Belitung
    hyperemnus
  • Pycnonotus atriceps baweanus (Finsch, 1901); pulau Bawean
  • Pycnonotus atriceps hodiernus (Bangs & J. L. Peters, 1927); kepulauan Maratua (laut Sulawesi)
  • Pycnonotus atriceps fuscoflavescens (Andaman Bulbul), tapi terakhir dinyatakan sebagai species terpisah dengan nama Brachypodius fuscoflavescens.

Nama asing: Black-headed Bulbul
Nama lain: Lincang, Kelintang, Cucak Kuricang

Burung Lincang (Black-headed Bulbul, memiliki mata biru, kadang berwarna hijau, seluruh permukaan tubuh berwarna kuning sampai ke sayap dan ekor dengan dibagian ujung ekor terdapat ban hitam. Bagian kepala sampai leher berwarna hitam serta paruh hitam.
Makanan favoritnya adalah buah-buahan kecil hutan, kalau dipelihara bisa diberi pisang kepok. Makanan lainnya adalah serangga kecil. Kebiasaan mencari makan di hutan secara berkelompok, terdiri sekitar 6 ekor kadang bisa 20 ekor atau lebih.

Burung Lincang ini, awalnya dikenal dengan nama ilmiah Turdus atriceps oleh Temminck pada tahun 1822, kemudian pada tahun 1996 oleh Sibley and Monroe, berdasarkan fitur vokal, perilaku dan morfologi dimasukkan ke dalam genus Pycnonotus, dengan nama ilmiah Pycnonotus atriceps. Namun pada tahun 2013 dalam Avibase taxonomic concepts, dimasukkan dalam genus Brachypodius dengan nama ilmiah Brachypodius atriceps karena di Andaman juga terdapat burung mirip dengan kepala berwarna zaitun ((Brachypodius fuscoflavescens)), tapi kemudian dikembalikan ke genus Pycnonotus.



Senin, 15 Desember 2014

Siuh

Siuh
Di Jawa Barat, termasuk daerah yang banyak didapati jenis burung-burung kecil. Seperti Tledekan (Sulingan), Ciblek, Prenjak, Decu, Cingcoang dan berbagai jenis burung kecil lainnya. Termasuk salah satu burung kecil yang belum begitu populer seperti burung Siuh. Burung ini juga terdapat di China, Myanmar, Thailand, Brunei dan Malaysia. Di Indonesia burung ini

Bagi peminat burung kecil, mungkin sudah mengenal burung Siuh, yang di daerah Jawa Barat lumayan populer, dan lagunya "Manuk Siuh" juga ada dalam bahasa Sunda. Kurang diketahui apa sebutannya dalam bahasa Indonesia atau di daerah lain di luar Jawa Barat. Sekilas burung Siuh ini mungkin mirip dengan burung Ciblek atau burung Kacamata (Pleci).
Burung Siuh (Rhinomyias olivaceus) atau Fulvous-chested Jungle-flycatcher. Berhabitat di hutan dataran tinggi sampai dataran rendah lembab subtropis atau tropis.


Taxonomi
Family Muscicapidae
Genus Rhinomyias
Species Rhinomyias olivaceus (Hume, 1877)
Subspecies:
  • olivaceus (Hume, 1877) - Myanmar Selatan, Thailand Selatan, Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan Utara.
  • perolivaceus Chasen & Kloss, 1929 - pulau Balambangan dan pulau Banggi, Kalimantan Utara
Nama lain: Fulvous-chested Jungle-flycatcher, Siuh
Penyebaran: China, Thailand, Myanmar (Burma), Malaysia, Brunei, Indonesia.


Dalam keadaan baru dipelihara (bakalan), burung ini biasanya dalam 2 hari mau mengeluarkan suara kicauannya, walaupun awalnya hanya berupa siulan dan kadang mirip sempritan kecil.

Burung Siuh juga memiliki variasi kicauan yang terdengar bagus, kicauan yang lumayan keras dan termasuk jenis yang pintar berkicau, selain itu juga bisa menirukan suara-suara burung lain. Kemampuan berkicaunya yang lumayan bisa mencuri perhatian para penggemar burung untuk memeliharanya.

Burung Siuh selain memakan serangga kecil sebagai makanan utamanya, juga mau menyantap buah-buahan seperti pisang dan pepaya. Beberapa penduduk setempat di Jawa Barat kadang memberikan buah tomat sebagai pakan burung Siuh ini.
Sayangnya di Jawa Barat populasi burung ini semakin berkurang, karena gencarnya penangkapan terhadap burung Siuh yang mungil ini.

photo ©Oleg Chernyshov
(pic source: http://avibase.bsc-eoc.org)
(pic source: http://souththailandbirding.com)